N i n a
"Dek!..., jam berapa ini?" tanya sang kakak lagi, berusaha terdengar tegas meski ia sendiri sudah menguap.
Sang adik yang pipinya belepotan bekas biskuit sore, hanya menatap polos. Ia menunjukkan mobil-mobilan merahnya, lalu kereta mainan barunya.
"Wuuuuusssshh! Tut-tut!" tiru si adik, sambil mendorong kereta di lantai, berharap kakaknya ikut terhibur.
Kakak menghela napas. Ia lupa, adiknya memang belum mengerti konsep waktu, apalagi jarum jam.
"Baiklah, begini ya, Sayang," kata si kakak, mencoba pendekatan lain. "Kalau udah gelap, kayak sekarang, ini waktunya 'Bobo'."
Si adik berhenti bermain. Ia memiringkan kepala, alisnya bertaut sebentar.
"Bobo?"
"Iya, bobo. Tidur. Matanya ditutup, nanti ketemu mimpi lucu," Kakak menepuk bantal di sebelahnya.
Sang adik tersenyum lebar. Ia bangkit, namun bukannya menuju bantal, ia malah berlari ke arah sakelar lampu dinding.
KLIK!
Lampu kamar langsung padam.
Kamar seketika gelap gulita.
"Yeayy! Sekarang udah 'Bobo'!" seru si adik riang, berdiri di tengah kegelapan, sambil memeluk erat kereta mainannya.
Kakak terdiam kaget, menatap siluet adiknya.
"Dek... gelap gulita gini bukan berarti udah bobo juga, kali!" protes sang kakak, yang kini harus meraba-raba mencari sakelar lampu lagi sambil menahan tawa.
Si adik cekikikan, menikmati 'game' gelap-gelapan barunya. Ia yakin, sekarang kakaknya pasti mau diajak main petak umpet!
Tentu! Mari kita lanjutkan kekacauan lucu di kamar tidur itu.
Kakak berdecak, kini terpaksa beroperasi dalam kegelapan. Ia bisa mendengar adiknya cekikikan, pasti bangga telah sukses memadamkan lampu.
"Aduh, Dek, jangan lari-lari! Nanti kepentok!" kata sang kakak pelan, tangannya meraba-raba dinding mencari sakelar.
Tiba-tiba, terasa ada sentuhan kecil di pergelangan kakinya.
"Wuuuuusshh!" desis si adik, sambil mendorong kereta mainannya yang baru—tepat di kaki sang kakak!
"Aduh!" Kakak sedikit terhuyung. "Dek, ini bukan jalan tol, ini kaki Kakak!"
Si adik malah makin semangat. Ia menganggap ini adalah permainan balapan baru, di mana Kakaknya adalah menara penghalang yang harus ia lewati.
"Ayo, Kak! Kita maen! Gelap, ya? Kakak di mana?" tanyanya dengan suara riang khas anak kecil.
Kakak menghentikan pencariannya sejenak. Jika ia menyalakan lampu sekarang, permainan ini pasti akan berakhir, dan adiknya akan rewel. Lebih baik ikut bermain sebentar, sekalian mengarahkan adiknya kembali ke tempat tidur.
"Oke, oke, Kakak main! Kakak sekarang jadi... jadi monster kegelapan!" jawab sang kakak, mengubah suaranya menjadi sedikit serak dan lucu.
Si adik langsung berteriak kegirangan dan melompat ke tempat tidur, menyelimuti dirinya dari kepala sampai kaki.
"Yeeey! Monster di sana! Bobo di sini!" serunya dari balik selimut tebal.
Sambil tersenyum geli, sang kakak akhirnya menemukan sakelar. KLIK!
Cahaya lampu kamar kembali menyala, menerangi pemandangan lucu: si adik meringkuk seperti kepompong di bawah selimut, menyisakan sedikit celah untuk mengintip.
Kakak berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang.
"Monsternya sudah pergi, Sayang," bisik Kakak lembut. "Sekarang, bobo sungguhan, ya? Besok pagi kita main kereta balap lagi."
Si adik perlahan membuka selimut. Wajahnya yang lucu memancarkan kantuk, namun matanya masih berkilat penuh rencana.
"Janji ya, Kak? Besok main lagi?"
"Janji," jawab Kakak sambil mencium kening adiknya.
Si adik akhirnya memejamkan mata, memeluk erat kereta mainannya. Kakak tersenyum lega, akhirnya misi 'menidurkan adik' berhasil. Ia pun ikut berbaring, menarik selimut...
... namun, sedetik kemudian, ia merasakan dorongan pelan di punggungnya.
Rupanya si adik, tanpa membuka mata, telah mendorong kereta mainannya di punggung Kakak, sambil bergumam...
"Wuuuuusshh... Bablas bobo... Tut-tut!"
Kakak hanya bisa menggelengkan kepala, menyerah pada kelucuan adiknya, dan akhirnya ikut tertidur, dengan punggung menjadi lintasan kereta mainan sang adik.
?
Comments
Post a Comment